Banyak produsen mengaku produknya "buatan Indonesia" — tetapi mengaku TKDN tinggi tanpa sertifikat resmi adalah pelanggaran. Sertifikasi TKDN memerlukan perhitungan formal dengan formula yang berbeda per kategori. Artikel ini membandingkan formula otomotif (Permenperin 22/2020) dan ICT (Permenperin 9/2024).

Komponen Dasar Perhitungan TKDN

Empat komponen utama:

  • Material (M): persentase nilai bahan baku dari sumber dalam negeri
  • Tenaga Kerja (T): share WNI di proses produksi langsung
  • Alat Kerja (A): mesin & peralatan dari produsen Indonesia
  • Biaya Tidak Langsung (BTL): overhead yang dikeluarkan di Indonesia

Formula Otomotif (Permenperin 22/2020)

Untuk produk otomotif (kendaraan, komponen), TKDN dihitung dengan formula bobot:

TKDN = (M × bobot M) + (T × bobot T) + (A × bobot A) + (BTL × bobot BTL)

Bobot tipikal otomotif: Material 60%, Tenaga Kerja 15%, Alat Kerja 15%, BTL 10%. Untuk mencapai TKDN 35%, kombinasi yang umum: Material 50% lokal, TK 80% WNI, Alat Kerja 20% lokal, BTL 70% domestik.

Formula ICT (Permenperin 9/2024)

ICT (smartphone, perangkat IT) punya skema khusus dengan tiga jalur:

  • Manufaktur (Hardware): formula sama dengan otomotif tetapi threshold minimum lebih tinggi
  • Aplikasi (Software): dihitung dari development cost di Indonesia
  • Pengembangan Inovasi: R&D yang dilakukan di Indonesia

TKDN ICT 40% bisa dicapai melalui kombinasi: 30% manufaktur + 10% aplikasi/inovasi.

Layanan TKDN & BMP

Sertifikasi TKDN dengan Verifikator Independen

FULI mendampingi klasifikasi BOM, audit lapangan, hingga rilis sertifikat resmi yang valid 3 tahun. Kami juga rancang strategi optimisasi multi-tahun untuk meningkatkan nilai TKDN.

Studi Kasus: Mobil Listrik Tiongkok di Indonesia

Salah satu PMA Tiongkok di sektor EV mencapai TKDN 40% di tahun ke-3 dengan strategi:

  • Tahun 1 (TKDN 28%): Body assembly + final assembly di Indonesia, motor & baterai impor
  • Tahun 2 (TKDN 35%): Lokalisasi battery pack assembly + simple electronics
  • Tahun 3 (TKDN 40%+): Battery cell production lokal + EV charging system

Studi Kasus: Smartphone Tiongkok

Brand smartphone Tiongkok mencapai TKDN ICT 40%:

  • 30% dari manufaktur (PCB assembly + final assembly + casing lokal)
  • 5% dari aplikasi (UI customization + native apps developed in Indonesia)
  • 5% dari pengembangan (R&D center di Indonesia)

Optimisasi Strategis: 3 Lever

Lever 1: Material Substitution. Identifikasi komponen volume-tinggi yang bisa dilokalkan. Untuk otomotif, beberapa kandidat: bracket, harness, plastic injection parts.

Lever 2: Workforce Mix. Naikkan share WNI di posisi technical-operational. TKA tetap di posisi strategis & R&D.

Lever 3: Local Tooling. Mesin dari produsen Indonesia (jig, fixture, tool) menambah nilai TKDN dengan cepat.

Risiko Self-Claim TKDN

Mengaku TKDN tanpa sertifikat resmi di tender pemerintah = pelanggaran serius. Sanksi: blacklist tender, denda, dan pidana. Selalu gunakan sertifikat dari verifikator independen yang terverifikasi Kemenperin.

Hitung Potensi TKDN Produk Anda

Konsultasi awal gratis untuk analisis BOM dan estimasi TKDN produk Anda dengan formula resmi.

Konsultasi TKDN →